Home > Artikel > Implementasi Ajaran Tat Twam Asi Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Implementasi Ajaran Tat Twam Asi Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Di Era Globalisasi  saat ini merupakan kemajuan Ilmu dan Teknologi, bila kita tidak menyadari akan hal tersebut kita akan ikut terbawa arus globalisasi, maka kita sebagai Umat Hindu selalu mengedepankan tentang ajaran hindu “Rwebhineda” yaitu Ajaran baik (Shubhakarma) dan Buruk (Asubhakarma). Misalnya kemerosotan moral saling membenci satu dengan yang lainya, tidak mengenal rasa persudaraan dan lain sebagainya. Dengan efek daripada hal hal yang tidak baik (Asubhakarma) tersebut Hindu mengajarkan umatnya untuk membentengi dirinya dengan ajaran “Tattwamasi” dengan harapan umat dapat selalu memahami bahwa kita semua bersudara yaitu “Tattwamasi kutumba wasudewa”.

Pada hakekatnya Atma adalah Brahman. Dalam kitab upanisad disebutkan “Brahman Atman Akiyam” yang artinya Brahman dan Atman itu adalah satu adanya. Atma merupakan percikan terkecil dari Brahman yang menghidupi mahluk hidup. Di dalam tubuh manusia  terdapat pula brahman yang disebut dengan Jiwatman.

Pada waktu melaksanakan Ngenteg linggih Ida Betara, sarathi memasang Sunari dengan makna agar Umat Hindu dianugrahi kekuatan melalui sinar sucinya Sanghyang Widhi sehingga Dharma tetap tegak di alam semesta ini dan dianugrahi keseimbangan antara Moksartham Jagadhita ya ca iti dharmah dengan Moksrtham atmanam. Yang mana pada sunari terbuat dari bambu memiliki lubang yang berbentuk bulat, segi tiga, segiempat dan berpalang empat tegak lurus dengan ukuran panjang 1.5 cm dan lebar ½ cm, pada lengkungan diatas terdapat kera sedang memanjat. Dan pindekan.

Hal ini memiliki makna bulat (windhu), segitita (Padmasana) dan segi empat (arah) dan palang empat merupakan dasar dari Swastika. Karena pada Sunari memiliki sifat ritual yang sangat tinggi dengan angka 108 mudra (sesuai dengan pengideran) dari 108 tersebut merupakan perhitungan Tatwa menjadi angka 9 (sadha siwa) dan diatas sembilan adalah 0 (windhu) artinya Windhu sunia (Prama siwa). Bila sunari lubang – lubang tersebut tertiup angin maka bersuaralah seperti nyanyian /tembang sinom. Suara inilah simbul mantra, kekidungan, bajra, suara gambelan, kekawin.

Nah kera memiliki makna atau simbul sang anoman atau marutsuta dimana marut artinya angin/bhatin dan suta berasal dari kata suweta artinya putih/suci. Bila umat hindu ingin bertemu Hyang Widhi atau manifestasinya harus dilandasi oleh bathin (instuisi) yang maha suci.

Sedangkan pindekan (baling-baling) memiliki simbul “Dewa Rare Angon” merupakan manifestasi dari Hyang Siwa. Kesegala arah dunia yang telah berinfiltrasi (bersemayam) di alam semesta untuk memberi kehidupan dan menetukan kematian dari semua mahluk.

Tattwamasi  berasal dari bahasa sansekerta. Tat artinya: itu (ia), Twam artinya: kamu, dan Asi artinya: adalah. Tat Twam Asi adalah kata-kata dalam filsafat Hindu yang mengajarkan kesosialan yang tanpa batas karena diketahui bahwa “ia adalah kamu” saya adalah kamu dan segala mahluk adalah sama memiliki atman yang bersumber dari Brahman, sehingga menolong orang lain berarti menolong diri sendiri dan menyakiti orang lain berarti menyakiti diri sendiri. Pengimplementasian ajaran tat twam asi dapat kita terapkan dalam ajaran catur paramita.

Tat Twam Asi adalah ajaran moral yang bernafaskan ajaran agama Hindu. Wujud nyata/riil dari ajaran ini dapat kita cermati dalam kehidupan dan prilaku keseharian dari umat manusia yang bersangkutan. Manusia dalam hidupnya memiliki berbagai macam kebutuhan hidup yang dimotifasi oleh keinginan(kama) manusia yang bersangkutan.Sebelum manusia sebagai makhluk hidup itu banyak jenis, sifat, dan ragamnya, seperti manusia sebagai makhluk, individu, sosial, religius, ekonomis, budaya, dan yang lainnya. Semua itu harus dapat dipenuhi oleh manusia secara menyeluruh dan bersamaan tanpa memperhitungkan situasi dan kondisinya serta keterbatasan yang dimilikinya, betapa susah yang dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Disinilah manusia perlu mengenal dan melaksanakan rasa kebersamaan, sehingga seberapa berat masalah yang dihadapinya akan terasa ringan. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran Tat Twam Asi, manusia akan dapat merasakan berat dan ringan hidup dan kehidupan ini.Semua diantara kita ini tahu bahwa berat dan ringan Rwabhineda itu ada dan selalu berdampingan adanya, serta sulit dipisahkan keberadaanya. Demikian adanya maka dalam hidup ini kita hendaknya selalu sering tolong menolong, merasa senasib dan sepenanggungan.

Misalnya, bila masyarakat kita tertimpa musibah misalnya saja bali ditimpa bencana Bom, sebagai akibat dari bencana itu bukan hanya dirasakan oleh masyarakat Bali sendiri, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat duniapun juga ikut terkena biasnya. Bila seorang anak mendapat halangan /kecelakaan sehingga merasa sedih, rasa sedih yang diderita oleh anak yang bersangkutan juga dirasakan oleh orang tuanya. Demikian juga yang lainnya akan selalu dirasakan secara kebersamaan /sosial oleh masing-masing individu yang bersangkutan.

Jiwa sosial ini seharusnya diresapi dengan sinar-sinar kesusilaan tuntunan Tuhan dan tidak dibenarkan dengan jiwa kebendaan semata.Ajaran Tat Twan Asi selain merupakan jiwa filsfat social, juga merupakan dasar dari tata susila Hindu di dalam usaha untuk mencapai perbaikan moral. Susila adalah tingkah laku yang baik dan mulia untuk membina hubungan yang selaras dan rukun diantara sesama makhluk hidup lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Sebagai landasan/pedoman guna membina hubungan yang selaras, maka kita mengenal, mengindahkan, dan mengamalkan ajaran moralitas itu dengan sungguh-sungguh sebagai berikut:

  1. Kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran/norma-norma masyarakat yang timbul dari hatinya sendiri (bukan paksaan dari luar).
  2. Rasa tanggung jawab atas tindakannya itu.
  3. Lebih mendahulukan kepentingkan umum dari pada kepentingan pribadi.

Sastra-sastra agama adalah sumber atau dasar dari tata susila (ethika) yang bersifat kokoh dan kekal, ibarat landasan dari suatu bangunan dimana bangunan yang bersangkutan harus didirikan. Jika landasannya itu tidak kuat/kokoh, maka bangunan itu akan mudah roboh dengan sendirinya.

Demikian pula halnya dengan tata susila bila tidak dilandasi dengan pedoman sastra-sastra agama yang kokoh dan kuat, maka tata susila tidak akan meresap dan mendalam di hati sanubari kita. Ajaran agama yang menjadi dasar dan pedoman tata susila Hindu diantaranya adalah ajaran Tri Kaya Parisuhda yang selalu kita ucapkan, tanamkan pada diri kita umat Hindu sesuai dengan yang selalu didengungkan dalam Trisandya bait ke VI dimana  Ajaran Tri Kaya Parisudha merupakan tiga kesusilaan yang penting sebagai bagian dari ajaran Dharma. Dengan demikian barang siapa yang dengan kesungguhan hati mengamalkan ajaranya itu sudah barang tentu akan selalu dalam keadaan selamat dan bahagia, karena ia selalu akan mendapat perlindungan dari perbuatanya yang baik itu.

Tata susila sering juga disebut dengan ethika (sopan santun). Ethika itu dapat diterapkan sesuai dengan tujuannya, bila manusia memiliki wiweka, yitu kemampuan membedakan dan memilih diantara yang baik dengan yang buruk , yang benar dengan yang salah dan lain sebagainya. Demikianlah tata susila dengan wiweka, keduanya saling melengkapi kegunaanya dalam hidup dan kehidupan ini.

Namun dewasa ini bila kita mau secara jujur mengakui, sesungguhnya banyak sekali tanda-tanda kemerosotan moral yang terjadi dilingkungan masyarakat, terutama dikalangan anak-anak (para remaja) kita, hal itu disebabkan oleh karena antara lain:

  1. Kurang tertanamnya jiwa agama pada setiap individu yang ada dalam masyarakat.
  2. Keadaan masyarakat yang kurang stabil, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan keamanan.
  3. Pendidikan moral belum terlaksana sebagaimana mestinya baik dilingkungan sekolah, masyarakat, maupun ditingkat rumah tangga.
  4. Situasi dan kondisi rumah tangga yang kurang stabil/baik.
  5. Diperkenalkan secara popular obat-obatan dan sarana anti hamil.
  6. Banyaknya tulisan-tulisan, gambar-gambar, siaran-siaran, kesenian-kesenian yang kurang mengindahkan dasar-dasar,norma-norma/aturan-aturan tentang tuntunan moral.
  7. Kurang adanya individu /organisasi/lembaga yang memfasilitasi tempat-tempat bimbingan dan penyuluhan moral bagi anak-anak/remaja yang menganggur.

Bila ajaran Tat Twam Asi dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat secara menyeluruh dan sungguh-sungguh, dalam sifat dan prilaku kita maka kehidupan ini akan menjadi sangat harmonis satu dengan yang lainnya diantara kita dapat hidup saling menghormati, mengisi dan damai. Demikianlah ajaran Tat Twam Asi patut kita pedomi, cermati dan amalkan kehidupan sehari-hari ini.

Agung Ananta Putra

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: